Kenapa Anak Tangga Selalu Berjumlah Ganjil? Ternyata Bukan Mitos, Ada Hitung-hitungan Arsitek di Baliknya
![]() |
| Foto oleh Jan van der Wolf |
Kenapa Anak Tangga Selalu Berjumlah Ganjil? Ternyata Bukan Mitos, Ada Hitung-hitungan Arsitek di Baliknya
Kalau sedang bertamu ke rumah orang, pernah nggak iseng menghitung jumlah anak tangga? Mungkin kelihatannya kegiatan yang nggak penting, tapi kalau diperhatikan, banyak tangga rumah memiliki jumlah anak tangga ganjil.
Dari situ biasanya muncul berbagai cerita. Ada yang bilang supaya membawa keberuntungan. Ada juga yang percaya angka ganjil melambangkan rezeki yang terus bertambah. Bahkan ada yang menganggap kalau jumlahnya genap, penghuni rumah bakal kurang hoki.
Percaya atau tidak soal mitos itu, faktanya dunia arsitektur memang punya alasan sendiri mengapa jumlah anak tangga sering dibuat ganjil. Alasannya bukan mistis, melainkan soal bagaimana tubuh manusia bergerak setiap hari.
Mitos dan Tradisi: Angka Ganjil Dianggap Membawa Kehidupan
Jauh sebelum ilmu ergonomi berkembang, masyarakat sudah lebih dulu mengenal filosofi angka. Dalam budaya Jawa, angka ganjil sering dimaknai sebagai simbol kehidupan yang terus berjalan. Sementara dalam feng shui, beberapa angka ganjil dipercaya membawa energi yang lebih baik dibanding angka genap untuk elemen tertentu.
Itulah mengapa tidak sedikit rumah tradisional maupun modern yang masih mempertahankan jumlah anak tangga ganjil. Bukan karena wajib, melainkan karena dianggap sebagai doa agar penghuni rumah diberi kelancaran dalam menjalani hidup.
Tentu saja, ini adalah bagian dari tradisi. Tidak ada penelitian ilmiah yang menyatakan rumah dengan anak tangga ganjil pasti lebih membawa keberuntungan.
Tubuh Manusia Ternyata Punya Ritme Sendiri
Nah, bagian ini justru lebih menarik. Dalam ilmu ergonomi, manusia memiliki pola berjalan yang relatif konsisten. Sebagian besar orang memulai langkah menggunakan kaki dominan, biasanya kaki kanan.
Kalau jumlah anak tangga dibuat ganjil, kaki yang pertama kali menginjak tangga akan menjadi kaki yang sama saat mencapai lantai tujuan.
Kelihatannya sepele, padahal ritme ini membuat otak lebih mudah beradaptasi ketika berpindah dari posisi menanjak menjadi berjalan di permukaan datar.
Itulah sebabnya banyak arsitek memilih jumlah anak tangga ganjil. Bukan karena angka ganjil lebih sakral, melainkan karena pola geraknya terasa lebih natural.
Langkah Terakhir Justru yang Paling Menentukan
Lucunya, banyak orang lebih fokus pada langkah pertama saat menaiki tangga. Padahal, dalam dunia desain bangunan, langkah terakhir justru jauh lebih penting.
Begitu sampai di ujung tangga, tubuh langsung mengubah pusat keseimbangan. Kalau perpindahan ini terasa canggung, risiko terpeleset atau kehilangan keseimbangan menjadi lebih besar.
Karena itu, arsitek tidak hanya menghitung jumlah anak tangga. Mereka juga memperhitungkan bagaimana tubuh akan "mendarat" ketika perjalanan menaiki tangga selesai.
Sesederhana itu, tetapi dampaknya terasa setiap hari tanpa kita sadari.
Bikin Tangga Nggak Bisa Asal Tinggi
Kalau mengira membuat tangga hanya tinggal membagi tinggi lantai dengan jumlah anak tangga, berarti pekerjaan arsitek memang sering diremehkan.
Ada rumus ergonomi yang sudah digunakan bertahun-tahun, yaitu:
2R + T = 60–65 cm (panjang langkah orang dewasa)
Keterangan:
R (Riser) = tinggi anak tangga.
T (Tread) = lebar pijakan.
Sebagai contoh, jika tinggi anak tangga 17 cm dan lebar pijakan 29 cm, hasilnya menjadi 63 cm. Angka tersebut termasuk ideal sehingga langkah terasa ringan dan nyaman.
Makanya, kalau pernah merasa ada tangga yang "enak dinaiki" dan ada juga yang bikin napas ngos-ngosan, kemungkinan besar perhitungannya memang berbeda.
Tangga Terlalu Curam Memang Hemat Tempat, Tapi Ada Harganya
Di rumah-rumah mungil, sering kali tangga dibuat lebih curam supaya tidak memakan banyak ruang. Masalahnya, penghematan itu sering dibayar dengan kenyamanan.
Tangga yang terlalu curam membuat lutut bekerja lebih keras, langkah menjadi pendek, dan risiko jatuh saat turun meningkat. Apalagi bagi lansia, anak-anak, atau orang yang sedang membawa barang.
Jadi, kalau masih punya ruang yang cukup, lebih baik membuat tangga sedikit lebih landai daripada terlalu memaksakan desain yang ringkas.
Bordes Itu Bukan Tempat Berhenti Karena Capek
Kalau pernah melihat tangga yang memiliki area datar di tengah sebelum berbelok, itulah yang disebut bordes. Fungsinya ternyata bukan sekadar mempercantik tampilan.
Bordes membantu mengurangi kelelahan, memberi kesempatan tubuh mengatur kembali keseimbangan, sekaligus menjadi titik pengaman jika seseorang terpeleset. Pada bangunan bertingkat, bordes bahkan menjadi bagian penting dari sistem keselamatan.
Kalau dipikir-pikir, bordes memang seperti rest area di jalan tol. Kita mungkin jarang menyadari keberadaannya, tetapi saat dibutuhkan, fungsinya sangat terasa.
Jadi, Haruskah Anak Tangga Selalu Ganjil?
Jawabannya tidak harus. Tidak ada aturan dalam standar konstruksi yang mewajibkan jumlah anak tangga harus ganjil.
Namun, karena pertimbangan ergonomi, kenyamanan berjalan, serta tradisi yang sudah berlangsung lama, banyak arsitek tetap memilih jumlah ganjil saat merancang tangga rumah.
Pada akhirnya, tangga yang baik bukan ditentukan oleh angka ganjil atau genap.
Yang jauh lebih penting adalah tinggi anak tangga, lebar pijakan, kemiringan, pencahayaan, material antiselip, serta keberadaan bordes. Semua itu bekerja bersama agar aktivitas naik turun tangga terasa aman, nyaman, dan tidak melelahkan.
Jadi, kalau suatu hari Anda kembali iseng menghitung anak tangga di rumah, jangan buru-buru menganggap jumlah ganjil hanyalah mitos. Bisa jadi, di balik setiap pijakan itu ada hitung-hitungan arsitek yang sengaja dibuat agar Anda bisa naik turun tangga dengan nyaman selama puluhan tahun.
