Kota Terlalu Bising? Ini 3 Solusi agar Lingkungan Lebih Tenang

 

Kota Terlalu Bising? Ini 3 Solusi agar Lingkungan Lebih Tenang

Kota Terlalu Bising? Ini 3 Solusi agar Lingkungan Lebih Tenang

Kita terbiasa menganggap kebisingan sebagai “harga yang harus dibayar” untuk hidup di kota. Klakson bersahut-sahutan, deru mesin kendaraan bermotor, suara mesin proyek, hingga kebisingan dari jalan arteri seolah menjadi latar suara permanen kehidupan urban. Padahal, kota tidak harus selalu berisik. Kebisingan adalah produk dari keputusan desain dan kebijakan. Artinya, ia bisa dikurangi jika kita mau mengubah cara merencanakan kota.

Dalam wacana urban planning di Indonesia, isu polusi suara nyaris selalu berada di pinggir meja diskusi. Kita sibuk bicara tentang kemacetan, banjir, hunian layak, atau ruang terbuka hijau, tetapi lupa bahwa kualitas akustik kota juga menentukan kualitas hidup warganya. Kota yang terlalu bising bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi perlahan menggerus kesehatan mental, kualitas hidup, dan produktivitas masyarakat sebagai penghuni kota.

Untuk mewujudkan kota yang lebih nyaman huni (livable city), dibutuhkan pendekatan perencanaan yang komprehensif. Berikut ini tiga strategi yang dapat menurunkan tingkat kebisingan perkotaan.

Green Buffers: Ruang Hijau Bukan Sekadar Estetika

pinterest.com

Ruang hijau sering diposisikan sebagai elemen kosmetik kota taman untuk foto, jalur hijau untuk mempercantik boulevard. Padahal, secara ekologis dan akustik, green buffers berfungsi sebagai “peredam” alami antara sumber kebisingan dan ruang hidup manusia.

Ketika jalan arteri, rel kereta, atau kawasan industri langsung berbatasan dengan permukiman tanpa zona penyangga, kebisingan menjadi “tamu” yang masuk ke rumah-rumah warga setiap hari. Di banyak kota maju, sabuk hijau, taman linear, dan koridor vegetasi diperlakukan sebagai infrastruktur akustik. Di sini, ruang hijau masih sering dikorbankan demi pelebaran jalan. Kita lupa bahwa setiap meter ruang hijau yang hilang adalah tambahan desibel kebisingan yang harus ditanggung warga.

Rethink Mobility: Kota Berisik karena Kita Memihak Kendaraan

pinterest.com


Kebisingan kota sebagian besar lahir dari satu paradigma yaitu kota dibangun untuk kendaraan bermotor, bukan untuk manusia. Selama desain mobilitas kita masih berorientasi pada kecepatan dan volume kendaraan, kebisingan akan terus menjadi “efek samping” yang dianggap wajar.

Mendorong transportasi publik yang senyap, kendaraan ramah lingkungan, kota ramah pejalan kaki, serta infrastruktur sepeda bukan sekadar isu emisi atau kemacetan, namun ini juga tentnag isu akustik. Kota yang walkable secara alami lebih tenang. Sayangnya, banyak proyek infrastruktur masih mengukur keberhasilan dari seberapa cepat arus kendaraan mengalir, bukan dari seberapa nyaman kualitas lingkungan bagi warga di sekitarnya.

Design & Materials: Detail Teknis yang Sering Diabaikan

pinterest.com


Urban planning tidak berhenti di level makro. Detail desain bangunan dan material infrastruktur menentukan apakah kebisingan dipantulkan, diperkuat, atau diredam. Fasad bangunan tanpa peredam suara, jendela tunggal yang menghadap jalan utama, serta perkerasan jalan yang bising adalah contoh bagaimana kota “dirancang” untuk memantulkan suara.

Ironisnya, aspek akustik sering dianggap isu teknis kecil padahal dampaknya besar bagi kehidupan sehari-hari. Jika kita serius ingin membangun kota layak huni, maka standar material dan desain yang mempertimbangkan kebisingan seharusnya menjadi bagian dari regulasi bangunan, bukan sekadar pilihan opsional.

Menata Ulang Prioritas: Kota untuk Siapa?

Pada akhirnya, persoalan kebisingan kota adalah soal prioritas perencanaan. Apakah kota kita dirancang untuk kenyamanan kendaraan, kepentingan ekonomi jangka pendek, atau kualitas hidup warganya? Kota yang lebih tenang bukan berarti kota yang sepi aktivitas, melainkan kota yang sadar bahwa suara juga bagian dari lingkungan hidup.

Jika urban planning ingin benar-benar berpihak pada manusia, maka kebisingan harus diperlakukan sebagai isu serius setara dengan polusi udara dan banjir. Tanpa kesadaran ini, kita akan terus membangun kota yang “ramai”, tetapi pelan-pelan menguras ketenangan penghuninya.

Kota yang sehat tidak hanya diukur dari seberapa cepat mobil melaju, tetapi seberapa nyaman warga bisa tidur, berbincang, dan beristirahat di rumahnya sendiri. Ketenangan bukan kemewahan. Ia adalah hak dasar warga kota.

Font Banner - Free Fonts